
Home |
Jamail A. Kamlian – Proyek Riset | Lihat Daftar Penerima Beasiswa ISLAM, PEREMPUAN DAN KEADILAN JENDER: WACANA TENTANG PRAKTIK-PRAKTIK TRADISIONAL ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT TAUSUG DI PHILIPINA SELATAN Tujuan proyek ini adalah untuk memicu lahirnya wacana tentang praktik-praktik Islam tradisional (dengan mempertimbangkan keadilan jender dan perempuan) di dalam kelompok-kelompok minoritas di Philipina. Proyek ini juga akan melihat bagaimana Islam dipraktikkan di komunitas Tausug. Penelitian ini juga akan menyarankan cara yang lebih baik untuk menyandingkan Islam dan hak asasi manusia. Jamail A. Kamlian – Wawancara Jelaskan motivasi Anda melaksanakan proyek riset ini. Para ilmuwan sosial menuduh Islam memarginalisasi wanita Muslim. Saya ingin meneliti dinamika praktik Islam dan bagimana kontribusinya bagi angka buta huruf yang tinggi serta kurangnya perencanaan keluarga, dan hak-hak reproduksi dan ekonomi. Jumlah penduduk Muslim adalah sekitar 3 sampai 5 orang dari 75 juta penduduk Philipina. Bila kita membandingan antara gagasan tentang proteksi hak asasi manusia pemerintah Philipina dengan negara-negara Barat, kita akan melihat bahwa pemerintah Philipina jauh ketinggalan dalam hal ini. Bila ini benar, maka riset ini akan mengembangkan cara-cara untuk lebih memajukan hak-hak perempuan dan keadilan jender. Apa rencana riset Anda untuk proyek ini? Dalam fase pertama riset ini, saya akan mengumpulkan data mengenai praktik-praktik Islam tradisional di Philipina. Data tersebut lebih difokuskan pada hak-hak perempuan, kesetaraan, dan keadilan jender sehingga bisa membantu mengembangkan model konseptual untuk terjun ke lapangan. Jelaskan tantangan apa yang Anda hadapi selama Anda menjalankan riset ini? Salah satu aspek yang paling menantang dalam riset saya adalah mengonsep ulang ide-ide saya untuk advokasi, yaitu mulai dari pemahaman teoritis sampai pada pendekatan yang lebih praktis. Mengeluarkan sebuah metodologi yang konkrit untuk advokasi —atau dengan kata lain, mengubah pendekatan teoritis tentang kekerasan hak asasi manusia kolektif menjadi proyek advokasi yang konkrit dan aktual— adalah tantangan terbesar bagi saya. Tantangan lainnya adalah yang berkenaan dengan kesulitan saya saat ini untuk masuk ke Yaman setelah peristiwa 11 September. Selama ini, apa saja hambatan-hambatan yang Anda temui dalam proyek riset ini? Saya merasa bahwa mengartikulasikan isu-isu sensitif semacam ini kepada masyarakat bisa jadi sesuatu yang problematis. Itulah sebabnya mengapa saya memilih suku saya sendiri karena mereka akan lebih terbuka untuk diteliti dan membicarakan isu-isu kontroversial sepreti hak asasi manusia dan politik. Mengutarakan kebutuhan terhadap perubahan dan mendapatkan kerja sama dari orang-orang fundamentalis sepertinya juga problematis karena ide-ide fundamentalis melarang wanita untuk bicara. Mereka tidak mau bicara soal demokrasi dan hak asasi manusia, dan mereka percaya pada hierarki laki-laki. Apa rencana masa depan Anda untuk proyek ini dan untuk pekerjaan Anda di bidang hak asasi manusia? Saya ingin menerbitkan tulisan-tulisan saya dalam bentuk buku sehingga fakta-faktanya bisa diakses oleh kaum perempuan. Mereka perlu tahu tentang hak-hak mereka karena perubahan yang paling efektif hanya bisa dilakukan dari dalam. |