Home
Tentang Program
“Islam dan Hak asasi Manusia”
Program Beasiswa
Artikel
Bibliografi
Para Sarjana
Beasiswa untuk Perubahan Sosial
Kembali ke sajian Inggris

Apakah “Islam dan Hak Asasi Manusia?”

Poin utama yang ditekankan di sini adalah bahwa ketika mengangkat pertanyaan ini, kita tidak menempatkan Islam dalam posisi yang benar-benar antagonis dengan Hak Asasi Manusia. Sebaliknya, Program ini justru menganggap hubungan ini tidak hanya sebagai kesatuan interaktif dari kekuatan-kekuatan dan faktor internal dan eksternal, melainkan juga terbuka bagi keterlibatan dan tantangan.

Seperti tradisi-tradisi kultural dan keagamaan lainnya, Islam juga memberikan dasar bagi tegaknya Hak Asasi Manusia dan kehormatan, melalui penjelasannya sendiri tentang maknanya bagi manusia. Namun dimensi-dimensi tradisi ini harus dilihat sebagai sesuatu yang terbuka bagi formulasi dan pemikiran krlibatan dan tantangan.___ritis di tengah-tengah penganutnya sendiri lantaran hakikat keanekaragaman yang inheren dan permanen dalam tradisi itu sendiri. Dengan kata lain, dalam masyarakat Muslim tidak hanya terdapat persamaan dan perbedaan dalam persepsi dan praktik Hak Asasi dan Martabat Manusia, tetapi juga kemungkinan untuk perubahan-perubahan dalam hal tersebut.

Acuan Hak Asasi Manusia ini secara umum dianggap sebagai pandangan universal yang sekuler tentang kemanusiaan sekaligus seruan betapa penting dan mendesaknya proteksi terhadap hak-hak dasar bagi semua manusia di manapun di penjuru dunia ini. Persepsi semacam ini biasanya muncul dari kenyataan bahwa artikulasi acuan Hak Asasi Manusia saat ini lahir dari pengalaman masyarakat Barat sejak abad ke-18, terutama sebagai bagian dari perjuangan untuk melindungi individu dari kekuasaan negara. Sebagai model yang sama dengan negara-bangsa Eropa yang kemudian “diuniversalkan” melalui kolonialisme, dan masih menjadi bentuk dominan organisasi politik di seluruh dunia, maka acuan Hak Asasi Manusia yang berevolusi untuk menjawab realitas tersebut sudah menjadi keharusan di manapun. Akan tetapi, persoalannya adalah bagaimana acuan Hak Asasi Manusia tersebut bisa diklaim sebagai sesuatu yang sah dan bisa diterapkan secara universal tanpa menjelaskan keragaman dan budaya yang besar dan permanen dalam masyarakat di seluruh dunia.

Untuk menjawab persoalan yang menantang inilah, kita akan memfokuskan diri pada upaya “negosiasi” hubungan yang kompleks dan keterkaitan antara Islam dan Hak Asasi Manusia. Beberapa aspek strategis dari proses ini bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Beberapa unsur Islam, seperti juga agama-agama besar lainnya, tidak begitu saja konsisten dengan prinsip-prinsip kunci Hak Asasi Manusia yang non diskriminatif. Para pemikir Islam kontemporer mewarisi visi tentang kebajikan sosial, seperti yang dinyatakan dalam Syari’ah, yang biasanya diyakini berasal dari Tuhan. Ketidaksesuaian yang tampak ini diperkuat oleh persepsi tentang acuan Hak Asasi Manusia sebagai sesuatu yang benar-benar didasarkan atas visi universal yang sekuler tentang kemanusiaan. Ketegangan antara agama dan Hak Asasi Manusia terutama disuarakan dalam dunia Islam karena peran kuat Islam dalam kehidupan pribadi dan publik, bahkan di negara-negara yang secara formal mengklaim diri mereka sekuler.
  • Sistem Hak Asasi Manusia internasional telah mencoba membuat norma-norma ini masuk ke dalam Hukum Internasional. Namun selama tidak adanya mekanisme internasional yang mumpuni untuk menegakkan nilai-nilai Hak Asasi Manusia melawan keinginan pemerintah nasional, para pembela Hak Asasi Manusia masih menghadapi masalah bagaimana memotivasi rakyat kebanyakan negara-bangsa untuk masih menghadapi masalah bagaimana memotivasi rakyat kebanyakan negara-bangsa untuk menegakkan _________________________________enekan pemerintah mereka agar mengesahkan dan menegakkan kesepakatan-kesepakatan Hak Asasi Manusia. Karena besar kemungkinan pemerintah akan melawan upaya-upaya semacam ini, penegakan Hak Asasi Manusia juga harus mengembangkan jawaban-jawaban yang efektif terhadap argumen-argumen yang sekiranya akan digunakan oleh elite penguasa, misalnya alasan-alasan yang didasarkan atas tradisi keagamaan untuk menolak upaya penegakan dan penerapan norma-norma Hak Asasi Manusia internasional secara universal.
  • Kekuatan-kekuatan Barat telah memanfaatkan konsep-konsep Barat tentang Hak Asasi Manusia sebagai dalih bagi dominasi dan eksploitasi kolonial dan pascakolonial terhadap dunia Islam. Akibatnya, paradigma Hak Asasi Manusia umumnya dianggap oleh masyarakat Islam sebagai usaha Barat untuk memaksakan nilai-nilai mereka demi mengalahkan nilai-nilai tradisional Islam.

Tujuan Program Islam dan Hak Asasi Manusia ini adalah meneliti dan berusaha untuk merekonsiliasi ketegangan-ketegangan tersebut di atas serta ketegangan-ketegangan lain dalam hubungan antara Islam dan Hak Asasi Manusia, baik pada dataran teoritis, konsep, politik, maupun praktik. Salah satu unsur utama pendekatan strategis ini adalah usaha untuk menyediakan kredibilitas murni bagi paradigma Hak Asasi Manusia di tengah-tengah masyarakat Muslim, serta membujuk masyarakat umum agar menerima Hak Asasi Manusia ini sebagai bagian integral tradisi agama dan kebudayaan mereka, bukan sebagai pemaksaan “Barat”. Dengan kata lain, Program ini berusaha membantu umat Islam untuk menerima sekaligus meningkatkan dan melindungi Hak Asasi Manusia melalui perspektif Islam.

Untuk itu, perlu sekali mengetahui apa yang spesifik dan universal dalam Islam, mengetahui apa yang ada di dalam tradisi dan hubungannya dengan tradisi-tradisi lain. sebaliknya, akan menyesatkan bila melihat tradisi agama besar seperti Islam sebagai sesuatu yang benar-benar monolitik dan identik dengan visi sekuler atau agama lain tentang Hak Asasi Manusia atau martabat kemanusiaan. Meski demikian, tidak benar pula bila menganggap Islam sama sekali tidak memiliki kesatuan batin, atau benar-benar berbeda dan tidak sejalan dengan sistem-sistem nilai lain, baik nilai-nilai keagamaan maupun bukan. Untuk menghindari kedua pandangan yang ekstrim ini, kami menekankan sebuah pendekatan yang seimbang, yang mengakui dan menghargai arti penting makna Islam dalam berbagai konteks, di samping juga mencari hubungan yang produktif antara Islam dan acuan Hak Asasi Manusia.

Akhirnya, program ini dirancang untuk memberi bantuan dana bagi upaya-upaya praktis untuk mempromosikan Hak Asasi Manusia dalam masyarakat Islam. Kami percaya bahwa hubungan yang saling menguntungkan antara usaha-usaha akademik dan advokasi sangat penting untuk memajukan dan melindungi Hak Asasi Manusia dalam masyarakat Muslim, atau bila perlu, dalam masyarakat manapun. Program dan situs kami barusaha menampilkan filsafat dan komitmen ini yang kami sebut dengan Beasiswa untuk Perubahan Sosial.

Atas